Aku Hanya Sedikit “Meriang”

05/10/2009 § 2 Comments

Dulu, dulu sekali aku pernah menyukai lagu “Unwell” dari Matchbox Twenty. Setelah sekian tahun tidak mendengarnya, lagu itu kembali populer di telingaku. Gara-garanya, dalam dua minggu terakhir seorang teman bolak-balik memutar lagu itu melalui Winamp, entah kenapa. Padahal speaker cempreng miliknya bikin lagu itu tampak jelek.

Semula aku hanya spontan “ikut nyanyi” sekenanya. Tapi lama-kelamaan aku terprovokasi untuk masuk ke dalam lirik lagu yang pernah bercokol di puncak selama 20 minggu di U.S. Billboard Adult Top 40 Chart pada tahun 2003. Kemudian lewat Uncle Google ku coba cari liriknya, biar bisa “ikut nyanyi” dengan lebih utuh. Aku juga cari di Facebook iLike dan YouTube, pengin cari versi lain dari yang biasa kudengar. Dapatlah versi accoustic dan live. Cuma perasaanku saja atau bukan, pada versi live atau accoustic, biasanya penyanyi-penyanyi itu tampak lebih menjiwai lagunya ketimbang versi album.Trus, tidak jarang juga mereka berimprovisasi yang membuat lagunya menjadi lebih hidup.

“Unwell” sepertinya ingin bercerita tentang seseorang yang menunggu sesuatu (atau seseorang?) dengan sabar dan penuh rasa percaya diri, optimis. Coba tengok penggalan chorus berikut:

« Read the rest of this entry »

Pesan di Truk

02/10/2009 § Leave a comment

Ketika itu aku hendak ke selatan. Seperti hari kemarin, sekitar jam 12.30 jalan Kaliurang pada ruas kilometer enam tampak padat. Selain karena jalan yang sedikit menyempit yang hanya kurang dari sepuluh meter untuk dua jalur, juga jam puncak lalu-lintas—jam istirahat kantor, istirahat perkuliahan dan pulang sekolah. Di samping itu, bisa jadi karena terdapat tiga buah bank. Seringkali nasabah bank-bank tersebut menggunakan bahu jalan di sisi kanan maupun kiri untuk parkir mobil. Kalau sedang penuh, mobil yang terparkir di satu sisi bahu jalan itu bisa mencapai empat sampai lima kendaraan berjajar seri. Belum lagi keluar masuk mobil nasabah yang bisa menghentikan laju lalu-lintas. Meski tidak terlalu menimbulkan kemacetan, tetap saja kepadatannya sangat mengganggu.

Kendaraan roda dua yang kutunggangi hanya melaju sekitar lima sampai tujuh kilometer per jam. Aku bukan pengguna jalan yang disiplin, aku mencoba mendahului kendaraan lain dari celah sisi kiri. Kadang ber-zig-zag ria, berharap bisa keluar dari zona tidak sehat itu. Setelah menambah kecepatan untuk melewati sebuah mobil sejuta umat dan berikutnya mobil semacam jip, akhirnya aku terjebak di belakang truk kecil.

Truk itu mengeluarkan emisi yang tidak normal. Asap kehitaman menyembur dari lubang knalpot. Untung aku melapisi mulutku dengan masker. Meski tidak terlalu banyak membantu, setidaknya asap itu tidak dengan mudah melenggang masuk ke paru-paru.

« Read the rest of this entry »

Kamar Air Mancur (Bag. 2 – habis)

01/10/2009 § Leave a comment

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang dijelaskan resepsionis Hotel Kenari Asri sekenaku sembari mengikuti petunjuknya untuk menuju Hotel Puri Graha. Akhirnya aku lihat sebuah hotel di sisi kiri jalan.

“Lho, ini kan Hotel Air Mancur? Bukannya aku tadi mengikuti petunjuk untuk ke Puri Graha?” batinku keheranan. Tapi ya sudahlah, apa pun hotelnya yang penting harganya terjangkau.

Aku menuju gerbang hotel yang berada di sisi kanan. Di tepi jalan masuk, kulihat kolam kecil di salah satu sisinya. Terdapat inisial AM berwarna merah bergaya seni kaligrafi cina, timbul menempel di dinding di atas kolam itu. Sekilas logo itu tampak seperti siluet rumah gadang ala Minangkabau. Dua buah lampu sorot dan beberapa tanaman kecil membuat kombinasi kolam dan logo tampak asri.

« Read the rest of this entry »

Kamar Air Mancur (Bag. 1)

29/09/2009 § Leave a comment

Jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 18.30 WIB saat roda dua yang kutunggangi memasuki alun-alun. Cukup gemerlap, kesan yang kutangkap pertama kali ketika mengitari separuh alun-alun Kota Kretek. Banyak lampu kota beriklan rokok berdiri di tepi jalan, mungkin itu salah satu penyebab kota ini tampak benderang.

Aku laju motorku memutar untuk melihat suasana di sekitar. Lalu aku berhenti dan ku parkir kendaraanku di sela-sela motor ber-plat K. Aku parkir di sisi luar jalan lingkar alun-alun, di sudut barat depan kompleks kantor bupati.

Akhirnya tiba juga aku di sini.

« Read the rest of this entry »

Telunjuk

28/09/2009 § 1 Comment

“Aku gak mau menerima barang-barang darimu lagi,” katanya setelah melihatku menyodorkan sesuatu padanya.

“Lho, kenapa?” sahutku dengan sedikit terkejut.

“Pokoknya enggak aja,” jawabnya singkat.

Aku terdiam. Aku tidak membayangkan barang ini akan kuberikan kepada orang lain apalagi kusimpan untuk diriku sendiri. Tapi dibuang juga sayang. Lalu untuk apa kalau seandainya barang ini tidak sampai berada di genggamannya?

« Read the rest of this entry »